Lelah

Entah apa yang harus ku jelaskan sekarang. Hidup ku terlalu berat untuk di jalani dan di mengerti. Langkah kaki ku di penuhi pecahan kaca menandakan bahwa jalan ku tidaklah mudah karena harus rela mengeluarkan darah untuk mencapai hal yang bukan tujuan ku.
Bukankah kalian tahu bahwa hidup di antara semua orang telah di atur oleh orang tua mereka  begitu pula hidup ku. Hidup yang tidak sebebas burung di luar sana mengejar cita-citanya.

Karena aku tahu...

Beban berat bertengger di pundak ku saat aku mengeluarkan tangis pertama di dunia ini menjadi manusia yang utuh dan berjanji pada pencipta ku untuk menerima beban tersebut di dalam perjanjian dari dalam rahim ibu ku.

Anak pertama memanggul beban berat yang harus di tahan di pundak ku seorang wanita, terkadang aku berpikir kenapa aku tidak terlahir sebagai laki-laki karena itu akan memudahkan ku menerima keadan ku di sisi lain aku sama sekali tidak mendapatkan jawabannya selain itu adalah ketentuan sang pencipta.

Berbicara tentang sang pencipta, aku melanggar satu hal yang telah di garis besarkannya untuk tidak menyukai hal yang dilarangnya.

Itu memang tindakkan bodoh tapi itu yang ku rasakan pada orang itu, yang membuat ku tertawa dan tersenyum, atau bersedih akan tingkahnya.

Maafkan aku karena telah menyalahi kodrat ku.

-
Kata-kata ku
-
Sepucuk mawar merah mekar indah di dalam bulatan batang berduri
Harumnya semerbak minuman memabukkan yang menggoda iman
Melangkah maju untuk menggapainya
Aku terikat akan duri tajamnya
Lalu
Akhirnya aku pun terluka meneteskan darah berwarna merah pekat
Oh... apakah ini pertanda bahwa aku melanggar semua yang ditentukan seperti sang Adam yang memetik buah terlarang di surga untuk Hawa? atau aku seperti Malaikat sombong mu hingga terbuang dari surga indah mu?
Oh pencipta ku maafkanlah hamba mu ini jika hal ini membuat mu kecewa pada ku sang manusia yang tidak sempurna
-

Komentar